SDM
Mempunyai Pengaruh Besar Terhadap Gelobalisasi dan Strategi Peusahaan
Abstrak
Era
globalisasi dan perdagangan bebas membuat persaingan bisnis semakin ketat.
Ditingkat makro pemerintah perlu meningkatkan kompetensi SDM melalui
peningkatan mutu pendidikan. Sedang ditingkat mikro perusahaan perlu mengadopsi
visi, misi dan strategi yang tepat yang didukung oleh strategi SDM dan budaya
perusahaan yang tepat pula. Pada dasarnya strategi SDM berkaitan dengan tiga
aktivitas SDM yaitu pengadaan, pemeliharaan,serta pelatihan dan pengembangan.
Strategi dan perencanaan SDM perlu didukung oleh nilai-nilai kreativitas, layanan
continuous learning dan inovatif. Konsep Learning organization seyogianya
diaplikasi dan dikembangkan untuk mengantisipasi tantangan internal dan
eksternal.
Pendahuluan
Abad 21 diwarnai oleh era
globalisasi, strategi SDM perlu disiapkan secara seksama khususnya oleh
perusahan–perusahaan agar mampu menghasilkan keluaran yang bersaing ditingkat
dunia. Perdagangan bebas tidak hanya terbatas pada ASEAN, tetapi negara-negara
di dunia. Situasi tersebut merupakaan suatu ciri khass dari era gelobal. Untuk
mengantisipasi perdagangan bebas ditingkat dunia, para pemimpin Negara ASEAN
pada tahun 1992 memutuskan didirikannya AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang
bertujuan meningkatkan keunggulan bersaing regional karena produksi diarahkan
pada orientasi pasar dunia melalui eliminasi tarif maupun menghilangkan
hambatan-hambatan tarif. Enam Negara telah menandatangani persetujuan CEPT yang
pada dasarnya menyetujui penghapusan bea impor setidak –tidaknya 60 persen dari
IL pada tahun 2003.
Bisnis baru akan banyak
muncul, baik investasi dalam negeri maupun investasi modal asing. Fakta
menunjukkan Indonesia kebanjiran barang – barang luar negeri seperti dari cina,
Taiwan yang harganya relatif murah. Perusahaan –perusahaan Indonesia dituntut
untuk mampu bersaing secara professional pada sekala dunia supaya dapat survive
dan bahkan berkembang. Kotler (1992) mengingatkan bahwa globalisasi pasar dan
kompetisi menciptakan suatu perubahan yang sangat besar. Strategi yang tepat
harus diaplikasikan untuk meraih keberhasilan melalui pemanfaatan peluang yang
ada pada lingkungan bisnis yang bergerak cepat dan semakin kompetitif.
Suatu
contoh, suatu perusahaan yang sebelumnya memilih strategi analyser dan
bersifat sangat berhati-hati dalam mengelola dan memanfaatkan peluang bisnis
serta memiliki budaya perusahaan yang cenderung konvensional, birokratis,
kurang inovatif dan berorientasi lokal, suatu saat mengubah strateginya menjadi
prospector (pelopor). Perusahaan
tersebut akan mengalami banyak persoalan jika SDMnya dan budaya perusahaannya
tidak dikelola dengan efektif. Perusahaan dengan strategi prospector
harus didukung oleh SDM yang menganut nilai-nilai inovatif, tidak birokratis
dan fleksibel. Tanpa ada kesesuaian antara strategi perusahaan dan strategi
SD, maka hampir pasti perusahaan tersebut akan menghadapi kesulitan.
Globalisasi dan SDM
Implikasi globalisasi pada
sumber SDM tampaknya masih kurang diperhatikan secara proporsional karena tolok
ukur keefektifannya kurang memiliki keterkaitan langsung dengan strategi
bisnis. Fakta menunjukkan bahwa peranan manusia dalam menunjang
pengimplementasian suatu strategi perusahaan, SBU (Strategic Business Unit)
maupun fungsional sangat penting dan menentukan. Alat ukur keefektifan
organisasi dan aktifitas sumber daya manusia perlu dirancang secara
professional. Capital Intellectual dan pengukurannya akhir-akhir ini sering
dipertimbangkan, pengimplementasiaannya tidak semudah yang diperkirakan. Pada
abad 21 ini pelaku bisnis harus pula mampu mengintregasikan semua dimensi
lingkungan hidup sebab masyarakat akan menuntut tanggung jawab perusahaan akan
factor lingkungan tersebut. Capra (1997) mengemukakan bahwa penggeseran
paradigma mekanistik ke paradigma holistic akan terus berjalan dengan
sendirinya. Pelaku bisnis harus tanggap menghadapi berbagai isu globalisasi
dengan bijaksana. Selain itu, flexibility dan continuous learning merupakan
karakteristik yang sangat penting dan yang sudah perlu dipertimbangkan oleh
pelaku bisnis untuk menjawab tantangan perdagangan bebas yang semakin
kompetitif. Gelobalisasi adalah suatu kenyataan dan mempunyai dampak langsung
maupun tidak langsung pada kebanyakan aspek bisnis di Indonesia. Untuk
memenangkan persaingan di pasar gelobal, perusahaan dituntut berpikir global
serta mempunyai visi dan misi yang jauh berwawasan ke depan. Mendapatkan calon
karyawan yang berkualitas dan professional di Indonesia tidak selalu mudah. Hal
tersebut disebabkan antara lain karena ketidaksesuaian antara job requirements
dengan kompetisi calon. Bajak-membajak tenaga profesional dan headhunting
masih sering terjadi hingga saat ini. Tenaga profesional asing masih banyak
dipekerjakan untuk menduduki posisi-posisi tertentu terutama di perusahaan besar
yang berorientasi internasional. Hal ini jelas memberi indikasi terjadi suatu
mismatch antara kompetensi calon karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Mengacu pada kenyataan ini, SDM kita harus ditingkatkan seefektif-efektifnya.
Sumber daya manusia merupakan
penggerak roda pembangunan,jumlah dan komposisinya terus berubah berkaitan
dengan proses demografi. Dunia bisnis akan semakin berorientasi global terlebih
lagi jika implementasi perdagangan bebas menjadi kenyataan. Kompetisi akan
menjadi semakin ketat dan tuntutan dunia akan meningkat. Hamel dan Prahalad
mengatakan bahwa kompetisi pada masa depan tidak hanya dapat dilakukan dengan
redefinisi strategi namun perlu juga redefinisi peranan manajemen atas dalam
menciptakan strategi sebab itu peranan para pelaku bisnis dalam mengidentifikasi
bisnis masa depan, menganalisis, merencanakan, menentukan/merumuskan serta
mengimplementasi strategi yang tepat sangat esensial dan menentukan misalnya
melalui transformasi organisasi. Taylor (1994) mengemukakan beberapa tindakan
yang harus dilakukan dalam melakukan transformasi organisasi agar berhasil dan
siap menghadapi masalahan-masalah di masa depan yaitu:
a) strectch goals yang
mensyaratkan bahwa sasaran harus spe-sifik dan dapat diukur,
b) visi masa depan,
c) struktur yang ramping,
d) budaya baru yang
mengacu pada profesionalisme, keterbukaan dan kerjasama kelompok,
e) berorientasi pada mutu
atau layanan berkelas dunia,
f) manajemen prestasi;
mensyaratkan setiap individu memberikan produk berkualitas dan layanan yang
memuaskan,
g) Inovasi menyeluruh,
h) kemitraan dan jaringan
kerja.
Mengacu pada definisi
strategi sumber daya manusia dapat disimpulkan bahwa strategi sumber daya
manusia berkaitan dengan misi,visi,strategi perusahaan,SBU dan juga strategi
fungsional. Strategi SDM berkaitan dengan pembentukan suatu budaya perusahaan
yang tepat, perencanaan SDM, mengaudit SDM baik dari segi kuantitatif maupun
kualitatif serta mencangkup pula aktivitas SDM. Perusahaan harus memilih
stratgei bisnis yang tepat supaya mampu memanfaatkan peluang bisnis dan
mengantisipasi kendala – kendala yang terjadi sebagai dampak dari perubahan
lingkungan yang cepat. Salah satu kunci yang sangat penting dalam meraih
keuntungan kompetitif adalah melalui pengelolaan sumber daya manusia seara
efektif. Desain ulang SDM acap kali perlu dilakukan dengan seksama dan bijak
agar sasaran perusahaan dapat tercapai. Hackman dan Oldham (1976) mengemukakan
bahwa JCM terdiri dari task identity, task significance, task variety,
authority dan feedback yang berimplikasi pada struktur organisasi.
Dengan perkataaan lain, desain ulang pekerjaan dapat dilakukan dengan mangacu
pada peningkatan kelima karakteristik tersebut.
Sementara
ditingkat mikro perusahaan–perusaha perlu berperan aktif untuk ikut menjalankan
mutu SDM baik. Aset SDM yang perlu dievaluasi adalah kualitas dan potensi SDM yang
dimiliki saat ini kebijakan–kebijakan SDM, system pengadan, pemeliharaan dan
pelatihan pengembangan,nilai–nilai yang ada baik yang positif maupun negative serta
kemampuan mengelola keragaman SDM. Disamping itu dirancang alat ukur (human
resources measurement) untuk mengetahui mutu dan kualitas SDM,potensi SDM serta
keterkaitan strategi SDM dengan performance perusahaan. Untuk mengevaluasi SDM
perlu dipertimbangkan empat faktor sebagai berikut:
- Tingkat strategis, antara lain misi, visi dan sasaran organisasi .
- Faktor Internal SDM , antara lain: aset SDM, kualifikasi SDM, aktivitas SDM : pengadaan, pemeliharaan, pelatihan dan pengembangan, serta kebijakan-kebijakan SDM.
- Faktor-faktor eksternal, antara lain demografis, perubahan sosial, budaya, teknologi, politik, peraturan pemerintah, pasar tenaga kerja dan isu Internasional (misalnya :HAM dan ekologi).
o
Faktor
organisasional, antara lain struktur, strategi perusahaan, budaya perusahaan,
dan strategi SDM.
Berdasarkan dengan
keterkaitan strategi bisnis dan strategi SDM secara sistematik,Sonnenfeld dan
Peiperl (1991) mengembangkan suatu model tipologi perusahaan dan implikasinya
pada strategi sumber daya manusia sebagai berikut:
v
Fortress
yaitu perusahaan menekankan pada kemampuan hidup. Jenis perusahaan yang
memiliki tipologi ini misalnya
hotel,strategi SDM yang digunakan adalah retrenchment.
v
Academy
yaitu perusahaan menekankan pada spesialisasi jabatan. IBM beberapa waktu yang
lalu cenderung bertipologi ini, strategi SDM yang dijalankan adalah
pengembangan SDM.
v
Club
yaitu perusahaan bertipologi ini menekankan loyalitas,komitment,senioritas, dan
pengalaman. Pada club para manajernya cenderung generalist,sebab itu strategi
SDM cenderung berorientasi pada retensi,pemeliharaan,dan kontribusi kelompok.
v
Baseball-Team
yaitu perusahaan menekankan pada inovasi. Penilaian prestasi lebih berorientasi
pada hasil. Pengembangan berupa pelatihan tidak terlalu banyak dilakukan,kalaupun
dilakukan biasanya bersifat informal dan berkaitan dengan pekerjaan yang sedang
dilakukan karyawan.
Pendekatan
tipologi ini mengarahkan pola berfikir secara sistematikdan pragmatis,akan
tetapi memasukkan suatu perusahaan pada salah satu kategori tersebut tidak
selalu mdah. Kekompleksan lingkungan internal dan eksternal menyebabkan
kefleksibelan tipologi tersebut dan tampaknya perusahaan masa depan cenderung
memiliki perpaduan cirri – cirri tersebut. Mengaitkan konsep tipologi strategi
SDM dengan future predictable characteristics akan memberikan gambaran peranan
strategi SDM secara jelas yang kemudian perlu direncanakan kegiatan SDM yang
mendukung. Strategi sumber daya manusiamasa depan harus mendukung inovasi
continuous innovativeness dan long term employment oriented human resources
strategi untuk menjawab tuntutan pelanggan antara lain menghendaki faktor –
faktor mutu,fungsi,harga,layanan dan keepatan layanan.
Dengan
megacuh pada karakteristik bisnis masa depan (globalisasi) serta memperhatikan
masalah-masalah SDM yang dihadapi oleh perusahaa-perusahaan di Indonesia, maka
perlu dirumuskan dan diimplementasi strategi SDM yang tepat dengan
mempertimbangkan aktivitas-aktivitas manajemen antara lain sebagai berikut:
ü
Prediksi
SDM pelru dilakukan secara kualitatif
dan kuantitatif melalui penelitian SDM
ü
Rekruitmen
dan seleksi harus mendasarkan pada factor kemampuan kepribadian yang positif,
bermotivasi tinggi, nilai-nilai yang menunjajng misi, visi, serta strategi masa
depan,.
ü
Orientasi
atau induction perlu dilakukan dengan mendasarkan pada budaya perusahaan.
ü
Pelatihan
serta pengembangan perlu mengacu pada kompeten, motivasi dan nilai-nilai yang
diharapkan serta hasilnya harus dapat diukur.
ü
Pemeliharaan
perlu dilakukan dengan memperhatikan hak dan kewajiabn karyawan secara seksama.
Teori
Tantangan terpenting yang
dihadapi manajemen sumber daya manusia selalu berkaitan dengan menyediakan
pelayanan yang masuk akal dengan rencana strategic perusahaan. Dalam
menformulasi strategi SDM,manajer SDM harus memikirkan tiga tantangan mendasar.
Pertama keharusan mendukung produktivitas
dan upaya peningkatan kinerja perusahaan. Kedua, karyawan memainkan
peran yang makin luas dalam usaha perbaikan kinerja pengusaha. Ketiga SDM harus
terlibat lebih jauh dalam mendesain tidak hanya melaksanakan rencana strategic
perusahan.
Perencanaan strategic mencakup 4 tugas utama menejemen strategi
yaitu menentukan evaluasi situasi internal dan eksternal, mendefinisikan bisnis
dan mengembangkan misi, menerjemahkan misi ke dalam tujuan strategic, dan
merangkai strategi atau arahan tindakan. Strategi pada tingkatan korporasi
mengidentifikasi portofolio bisnis secara keseluruhan, terdiri dari perusahaan
dan cara berhubungan satu sama lain. Pada tingkat yang lebih rendah, setiap bisnis
ini butuh strategi kompetitif/tingkat bisnis. Kita dapat mendefinisikan
keuntungan kompetitif sebagai semua faktor yang memungkinkan organisasi
mendiferensiasikan produk atau jasa dari produk dan jasa pesaing untuk
meningkatkan presentase pangsa pasar. Perusahaan menggunakan beberapa strategi
kompetitif untuk mencapai keuntungan kompetitif yaitu kepemimpinan biaya
rendah, diferensiasi dan focus. Istilah SDM stratejik mengacu pada serangkaian
tindakan spesifik manajemen SDM yang didorong oleh perusahaan untuk mencapai
tujuan. Tujuan yang terpenting dari strategi SDM adalh membangun karyawan yang
memiliki komitmen, terutama dalam lingkungan tanpa serikat kerja.
Studi
dari Universitas Michigan menyimpulkan bahwa kinerja tinggi SDM professional
perusahaan mengdentifikasi masalah manusia yang sangat penting bagi strategi
bisnis dan membantu membangun dan melaksanakan strategi. Mereka memiliki
kapasitas untuk mencapai alternative dan dilibatkan dalam membuat respons dan
mengarahkan pasar organisasi. Manajer SDM melakukan dua peran mendasar
perencanaan strategic yaitu melaksanakan dan memformulasikan strategi.Manajemen
puncak memformulasikan strategi korporasi dan kompetitif perusahaan lalu
strategi tersebut memformulasikan kebijakan dan strategi fungsional yang luas.Peraturan
dasar pada strategi ini adalah aktivitas kebijakan dan strategi departemen SDM
harus masuk akal berkaitan dengan strategi kompetitif dan korporatif
perusahaan.Peran tradisional SDM dalam pelaksanaan strategi telah meluas
termasuk bekerja dengan manajemen puncak untuk memformulasikan rencana
strategic perusahaan.Peran meluas dalam formulasi strategi menggambarkan
realita yang dihadapi oleh sebagian besar perusahaan besar saat ini.Globalisasi
berarti persaingan yang semakin meningkat, berarti kinerja yang lebih baik dan
sebagian besar perusahaan besar dapat meningkatkan kinerja secara keseluruhan
atau sebagian dengan mendorong kompetensi dan komitmen karyawan mereka.
Proses SDM terdiri dari 3
komponen dasar, yaitu: profesional SDM yang dibutuhkan untuk membangun SDM,
kegiatan dan kebijakan SDM, serta kompetensi dan prilaku karyawan.Menciptakan
sistem SDM yang berorientasi pada strategi membutuhkan keahlian baru sebagai
bagian dari profesional SDM. Mereka harus memiliki wawasan yang luas mengenai pengetahuan
bisnis agar dapat memahami bagaimana perusahaan menciptakan nilai-nilai dan
untuk melihat bagaimana sistem SDM perusahaan berkontribusi dalam proses
penciptaan nilai-nilai tersebut. Dilingkungan yang kompetitif saat ini manajer
tidak dapat mengabaikan sifat sistem SDM, kebijakan dan praktek aktual SDM
untuk kesempatan.Manajer biasanya mencoba untuk menciptakan sistem kerja
kinerja tinggi.Banyak perusahaan yang memiliki kinerja tinggi yang
mempekerjakan karyawan berdasarkan kepada seleksi tes, dan menyediakan
pelatihan pada karyawan baru. Manajer SDM butuh cara untuk menerjemahkan
strategi baru perusahaan kedalam kebijakan dan praktek SDM yang spesifik dan
dapat diterapkan. Manajemen memformulasikan rencana strategic dengan
mengimplikasikan beberapa persyaratan tenaga kerja, berkaitan dengan keahlian,
karakteristik dan prilaku karyawan yang harus diberikan oleh SDM untuk
memberdayakan bisnis agar dapat mencapai tujuan strategic.
Manajer sering menggunakan
kartu nilai SDM untuk mengukur efektivitas dan efisiensi fungsi SDM dalam
menghasilkan prilaku karyawan untuk mencapai tujuan strategic perusahaan.Kartu
nilai ini menunjukkan standar kuantitatif yang digunakan perusahaan untuk
mengukur aktivitas SDM dan mengukur prilaku karyawan sebagai hasil dari kegiatan
ini, dan mengukur hasil organisasi yang secara strategic dan relevan dengan
prilaku karyawan. Dengan begitu kartu ini menekankan cara yang informatif, tapi
komprehensif, hubungan sebab akibat antar aktivitas SDM, dan munculnya prilaku
karyawan, dan merupakan hasil dari keluaran strategic dan kinerja perusahaan
secara luas.
Ada tujuh tahap dalam penggunaan
pendekatan kartu nilai SDM untuk menciptakan hasil strategic yang berorientasi
pada sistem SDM, antara lain:
1.
Mendefinisikan
strategi bisnis
2.
Menjabarkan
nilai rantai perusahaan
3.
Mengidentifikasi
keluaran organisasi yang secara strategic dibutuhkan
4.
Mengidentifikasi
prilaku dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan
5.
Mengidentifikasi
aktivitas dan kebijakan sistem SDM yang relevan secara strategic
6.
Mendesain
sistem pengukuran kartu nilai SDM
7.
Evaluasi
secara periodik sistem pengukuran.
Kesimpulan
Seiringnya
berjalan waktu kini perdagangan tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan suatu
wilayah atau Negara tertentu saja melainkan di abad 21 ini telah diwarnai oleh
era globalisasi yang mengharuskan adanya perubahan-perubahan baik di sekala
mikro mau pun makro. Ditingkat makro pemerintah perlu meningkatkan kompetensi
SDM melalui peningkatan mutu pendidikan. Sedang ditingkat mikro perusahaan
perlu mengadopsi visi, misi dan strategi yang tepat yang didukung oleh strategi
SDM dan budaya perusahaan agar Indonesia dapat bersaing di era globalisasi ini.
Pendapat
dan Saran
Di
abad 21 ini dimana telah di warnai era globalisasi Indonesia masih jauh di
bawah rata-rata di bandingkan di Negara lain baik di sekala mikro maupun makro
khususnya pada sumber daya manusia hal ini di karenakan tolok ukur
keefektifannya kurang memiliki keterkaitan langsung dengan strategi bisnis. Dan
saran saya agar Indonesia mampu bersaing di era globalisasi ini Indonesia harus
berani terjun bebas ke era globalisasi dan memenuhi semua tantangan-tantangan yang
ada pada era ini seperti sejarah telah mengatakan di negri Jepang yang dahulu Jepang
mempunyai system menutup diri dari Negara lain supaya budaya dan agamanya tidak
luntur, akan tetapi semua itu berubah setelah jepang di kalahkan oleh amerika,
jepang menyadari bahwa betapa tertinggal jauh dia dari Negara-negara lain dan
Jepang berupaya memenuhi semua tantangan-tantangan yangb ada pada eranya.