A.
Latar Belakang Masalah
Pencapaian visi, misi dan tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan bersama oleh warga sekolah, diperlukan kondisi
sekolah yang kondusif dan keharmonisan antara tenaga pendidikan yang ada di
sekolah antara lain kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, dan orang tua
murid/masyarakat yang masing-masing mempunyai peran yang cukup besar dalam
mencapai tujuan organisasi.
Suatu organisasi akan berhasil
dalam mencapai tujuan dan program-programnya jika orang-orang yang bekerja
dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik sesuai
dengan bidang dan tanggung jawabnya. Agar orang-orang dalam organisasi tersebut
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka diperlukan seorang pemimpin yang
dapat mengarahkan segala sumber daya dan membawa organisasi pendidikan
(sekolah) menuju ke arah pencapaian tujuan dalam suatu organisasi, berhasil
atau tidaknya tujuan tersebut sangat dipengaruhi oleh factor-faktor seperti
pemimpin dan orang yang dipimpinnya, serta perilaku organisasi yang
dijalankannya. Agar organisasi dan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh pemimpin
dalam organisasi dapat berjalan secara efektif dan efesien, salah satu tugas
yang harus dilakukan adalah mengawal dan mengarahkan perilaku organisasi dalam
memberikan kepuasan kepada orang yang dipimpinnya/ yang menjadi costumernya.
Kepala sekolah sebagai seorang
pemimpin di lingkungan satuan pendidikan harus mampu mewujudkan tujuan-tujuan
yang telah ditentukan. Kepemimpinan dalam lingkungan satuan pendidikan selalu
melibatkan upaya seorang kepala sekolah untuk mempengaruhi perilaku organisasi,
para pengikut/guru dalam suatu situasi. Agar kepala sekolah dapat melaksanakan
fungsi kepemimpinannya, dia bukan saja harus memiliki wibawa tetapi harus
memiliki kesanggupan untuk menggunakan wibawa ini terhadap para guru supaya diperoleh
kinerja guru yang baik dalam sebuah organisasi perlu ditetapkan arah perilaku
organisasi dan azas-azasnya. Diantaranya adalah pembagian tugas. Yang perlu
diperhatikan dalam azas pembagian tugas ini adalah kemampuan dari individu-individu
yang diserahi tugas. Dengan demikian dalam suatu organisasi perlu adanya
manajemen efektif yang mampu mengarahkan dan membina perilaku organisasi dan
administrasi.
Dari uraian tersebut di atas,
maka perilaku suatu organisasi dapat berpengaruh sangat besar dalam pencapaian
tujuan/ visi dan misi suatu organisasi maupun dalam tatanan hidup di
masyarakat. Robbins (2002). Menjelaskan perilaku organisasi berupaya mengetahui
faktor-faktor penyebab perilaku seseorang atau kelompok. Penjelasan terhadap
suatu fenomena dalam manajemen merupakan hal penting karena membantu para
manajer atau pemimpin tim dalam melakukan sasaran lain yaitu mengendalikan
situasi penyebab perilaku individu atau kelompok kerja tersebut.
Atas pemahaman tersebut, dapat
diketahui bahwa manajemen dalam suatu organisasi merupakan suatu keahlian
menggerakkan dan mengendalikan orang lain untuk mencapai tujuan yang ditentukan
sebelumnya. Dengan demikian aktifitas dari kegiatan organisasi ditentukan oleh
peran seorang pemimpin dan dibantu oleh individu-individu yang menjadi
bawahannya. Dan di setiap lembaga satuan pendidikan tentu mempunyai seorang
kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru, serta karyawan sebagai bawahannya.
Pemimpin
oleh Winardi (2004:304) didefinisikan sebagai berikut :
“Pemimpin
adalah seorang yang karena kecakapan-kecakapan pribadinya dengan atau tanpa
pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk
mengerahkan usaha bersama ke arah pencapaian sasaran-sasaran tertentu “.
Dari
pendapat tersebut pengertian pemimpin mewujudkan adanya kemampuan untuk
menggerakkan, membimbing, memimpin dan memberi kegairahan kerja terhadap orang
lain. Jadi bila ditarik kesimpulan dari pendapat diatas, pemimpin adalah orang
yang dapat mempengaruhi, menggerakkan, menumbuhkan perasaan ikut serta dan
tanggung jawab, memberikan fasilitas, tauladan yang baik serta kegairahan kerja
terhadap orang lain.
Kepala sekolah sebagai seorang
pemimpin di satuan pendidikan merupakan pemimpin formal, artinya dia diangkat
secara formal (Formally Designated Leader) oleh organisasi yang bersangkutan
atau organisasi yang menjadi atasannya.
Guru (pendidik) menurut
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal
39 adalah :
“Pendidik
merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan,
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik pada perguruan tinggi”.
Tenaga guru adalah salah satu
tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai faktor penentu keberhasilan
tujuan organisasi selain tenaga kependidikan lainnya, karena guru yang langsung
bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan bimbingan yang muaranya
akan menghasilkan tamatan/lulusan yang diharapkan. Untuk itu kinerja guru harus
selalu ditingkatkan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu biasanya
dilakukan dengan cara memberikan motivasi, mengadakan supervisi, memberikan
insentif, memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir,
meningkatkan kemampuan, dan gaya kepemimpinan yang baik. Sementara kinerja guru
dapat ditingkatkan apabila yang bersangkutan merasa senang dan cocok dengan
gaya kepemimpinan yang terapkan oleh kepala sekolah.
Realitas menunjukan bahwa
kreatifitas dan kinerja guru yang ada di sebuah lembaga pendidikan bergantung
dari bagaimana peran seorang kepala sekolah dalam memberi kebijakan atau
perintah kepada guru. Oleh karena itu kepala sekolah dituntut untuk menerapkan
kepemimpinan secara benar dan konsekwen. Karena kepemimpinan inilah yang
nantinya banyak mempengaruhi perilaku pengikut-pengikutnya.
Berdasarkan
uraian tersebut di atas, penulis membuat makalah tentang Perilaku Organisasi
dalam Kepemimpinan Pendidikan sebagai salah satu tugas mandiri yang diberikan
dalam perkuliah program administrasi pendidikan di UHAMKA Jakarta.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah dan tujuan penelitian maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai
berikut: “Bagaimanakah Konsep Perilaku Organisasi yang dapat Diperankan kepala
sekolah sebagai pimpinan pendidikan dalam mencapai dan mengelola sumber daya
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional?”
C.
Tujuan dan manfaat Penulisan
Berdasarkan latar belakang
masalah, makalah ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peran
organisasi, pimpinan lembaga pendidikan dalam mengelola lembaga pendidikan dan
sumber daya yang ada di dalamnya?
Adapun
manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagi penulis sendiri adalah dapat secara langsung menerapkan ilmu-ilmu yang
diperoleh selama menjalankan proses perkuliahan pasca sarjana administrasi
pendidikan tentang kepemimpinan pendidikan dapat diaktualisasikan dengan baik.
2.
Bagi pihak-pihak yang berkepentingan dapat dijadikan referensi untuk memperluas
wawasan dan pengetahuan di bidang administrasi pendidikan.
BAB
II
KAJIAN
TEORITIS
A.
Tujuan dan Fokus Perilaku Organisasi
Tujuan kajian perilaku organisasi
pada dasarnya ada tiga, yaitu menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan
perilaku manusia. Robbins (2002). Menjelaskan, kajian perilaku organisasi
berupaya mengetahui faktor-faktor penyebab perilaku seseorang atau kelompok.
Penjelasan terhadap suatu fenomena dalam manajemen merupakan hal penting karena
membantu para manajer atau pemimpin tim dalam melakukan sasaran lain yaitu
mengendalikan situasi penyebab perilaku individu atau kelompok kerja tersebut. Sasaran
kedua, yaitu meramalkan berarti perilaku organisasi membantu memprediksi kejadian
organisasi di masa mendatang. Pengetahuan terhadap faktor-faktor penyebab
munculnya perilaku individu atau kelompok membantu manajer meramalkan
akibat-akibat dari suatu program atau kebijakan organisasi. Hal ini membantu
melakukan pengendalian preventif terhadap perilaku individu dan kelompok dalam
organisasi. Sasaran ketiga yaitu mengendalikan mengandung arti bahwa perilaku
organisasi menawarkan berbagai strategi dalam mengarahkan perilaku individu
atau kelompok. Berbagai strategi kepemimpinan, motivasi, dan pengembangan tim
kerja yang efektif merupakan contoh-contoh dalam mengarahkan perilaku individu
dan kelompok.
Dalam bidang manajemen
pendidikan, kajian tentang perilaku organisasi telah lama menjadi perhatian
para pakar terutama karena organisasi pendidikan dicirikan oleh keterlibatan
sejumlah besar manusia, mulai dari tenaga kependidikan, pendidik, siswa,
orangtua dan masyarakat. Dengan kompleksitas itu pemahaman terhadap ilmu
perilaku organisasi merupakan suatu hal yang penting khususnya bagi pengelola
dalam meningkatkan kinerja organisasi pendidikan.
Secara umum, perilaku organisasi
memiliki dua fokus perhatian. Pertama, perilaku organisasi merupakan suatu
bidang studi yang mempelajari dampak perorangan, kelompok, dan struktur pada
perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan tentang hal-hal
tersebut demi peningkatan keefektifan organisasi (Robbins, 2003). Perilaku
organisasi mempelajari tiga determinan perilaku dalam organisasi, yaitu
individu, kelompok, dan struktur atau organisasi. Singkatnya, perilaku
organisasi merupakan kajian terhadap apa yang dilakukan orang dalam organisasi
dan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi kinerja organisasi tersebut.
Tingkat analisis perilaku organisasi tersebut digambarkan sebagai berikut.
Gambar
Tingkat
Analisis Perilaku Organisasi
(Tyson
dan Jackson, 1992).
Dalam konteks analisis yang
digambarkan tersebut, Tyson dan Jackson (1992) mengemukakan bahwa kajian
perilaku organisasi didasarkan pada pentingnya memahami apa yang terjadi pada
individu-individu dalam organisasi dan apa penyebab perilaku mereka. Dengan kata
lain, perilaku organisasi berkaitan dengan ketergantungan: kinerja organisasi
tergantung bagaimana kinerja kelompok kerja, sedangkan kinerja kelompok kerja
tergantung pada kinerja individu.
Fokus kedua adalah perilaku
organisasi sebagai kajian antar disiplin ilmu yang diarahkan untuk mempelajari
sikap, perilaku, dan kinerja individu dalam organisasi (Daft, 2000). Sebagai
suatu kajian antardisiplin, perilaku organisasi menggunakan konsep dan teori
dari disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi,
pendidikan dan juga manajemen serta disiplin ilmu lainnya. Konsep dan
teori-teori tersebut penting artinya dalam membantu manajer memahami perilaku
manusia dalam organisasi. Pemahaman terhadap perilaku manusia penting agar
manajer mampu menerapkan pendekatan yang tepat dalam memberdayakan manusia bagi
keefektifan organisasi.
B.
Pendekatan Antardisiplin dalam Perilaku Organisasi
Berdasarkan fokus kedua Robbins
(2003) mengemukakan bahwa perilaku organisasi merupakan ilmu terapan yang
dibangun dengan dukungan sejumlah disiplin ilmu, seperti psikologi, sosiologi,
psikologi sosial, antropologi, dan ilmu politik. Psikologi merupakan ilmu
pengetahuan yang berusaha mengukur, menjelaskan, dan mengubah perilaku manusia.
Sumbangan terpenting dari ilmu psikologi terhadap perilaku organisasi adalah
kajian tentang pembelajaran, motivasi, kepribadian, persepsi, pelatihan,
keefektifan kepemimpinan, kepuasan kerja, pengambilan keputusan individu,
penilaian kinerja, pengukuran sikap, seleksi karyawan, disain kerja, dan stres
kerja.
Sumbangan terpenting psikologi
terhadap perilaku organisasi terutama berkaitan dengan tiga hal: motivasi,
keefektifan kepemimpinan, dan stres kerja. Motivasi berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan yang menggerakkan individu. Dalam bidang pendidikan,
motivasi menjadi kajian yang lebih kompleks lagi karena berkaitan dengan
beragamnya status manusia di dalamnya seperti guru, siswa, kepala sekolah, dan
personil lainnya.
Konsep disiplin telah membantu
organisasi dalam memahami motivasi manusia dalam organisasi. Seiring dengan
perkembangan teori manajemen, juga terjadi perubahan dalam pendekatan motivasi.
Perkembangan teori motivasi tersebut berawal dari pendekatan tradisional,
pendekatan ekonomi, pendekatan sumber daya manusia hingga ke pendekatan
kontemporer (Daft, 2000). Pandangan tradisional mengemukakan bahwa cara
memotivasi seseorang diibaratkan dengan bagaimana keledai digerakkan.
Menurut pendekatan ini, cara
terbaik untuk memacu keledai adalah dengan mengikat wortel pada ujung cemeti dan
menggoyang-goyangkannya di luar jangkauan keledai itu. Pemikian Frederick W.
Taylor yang merupakan tokoh manajemen ilmiah menjadi landasan pendekatan ini.
Taylor mengembangkan pola manajemen yang didasarkan atas prinsip-prinsip ilmiah
untuk mencapai efisiensi organisasi. Berdasarkan hal tersebut, sistem
penghargaan yang bersifat finansial diberikan bagi karyawan yang memiliki
kinerja yang tinggi dan sebaliknya, hukuman diberikan kepada karyawan yang
memiliki kinerja rendah. Pendekatan ini pada gilirannya menjadi dasar bagi
pengembangan sistem penggajian yang membayar gaji karyawan secara ketat
berdasarkan kuantitas dan kualitas hasil kerja mereka.
Pendekatan ekonomi tidak cukup
untuk menjelaskan motivasi karyawan. Penelitian Hawthorne oleh Elton Mayo mengungkapkan
bahwa faktor-faktor nonekonomi seperti kerja sama, hubungan pribadi, dan
kepaduan kelompok kerja jauh lebih penting daripada uang sebagai motivator
perilaku kerja. Berdasarkan hal itu pendekatan ini memandang penting penciptaan
kondisi-kondisi sosial yang mendukung di tempat kerja sebagai salah satu
motivator karyawan.
Pada perkembangan selanjutnya,
pendekatan sumber daya manusia lahir untuk menggabungkan pendekatan ekonomi dan
pendekatan hubungan manusia dalam upaya menjelaskan perilaku karyawan sebagai
pribadi yang utuh. Pendekatan ini menganggap bahwa pendekatan sebelumnya
cenderung memanipulasi karyawan melalui penghargaan ekonomi atau hubungan
sosial. Menurut pendekatan sumber daya manusia, manusia merupakan pribadi yang
kompleks dan karena itu dimotivasi oleh berbagai faktor. Manusia pada dasarnya
suka bekerja tidak peduli ada tidaknya motivator.
Perkembangan terakhir dari kajian
motivasi kerja adalah pendekatan kontemporer. Pendekatan ini dipengaruhi oleh
tiga tipe teori. Pertama, teori isi, yang menekankan pada analisis yang
mendasari kebutuhan manusia. Teori isi memberikan pemahaman akan kebutuhan
manusia dalam organisasi dan membantu manajer memahami bagaimana kebutuhan
tersebut dapat dipuaskan di tempat kerja. Kedua, teori proses, yang memusatkan
perhatian terhadap proses yang memengaruhi perilaku karyawan. Tipe teori ini
memfokuskan perhatian pada bagaimana karyawan berupaya mendapatkan kepuasan di
tempat kerja. Ketiga, teori penguatan, memfokuskan pada hasil perilaku karyawan
sebagaimana diharapkan atau bagaimana perilaku yang ditunjukkan dapat
menghasilkan kinerja yang lebih baik.
C.
Epektifitas Kepemimpinan
Efektifitas
kepemimpinan menjadi salah satu tanggung jawab perilaku organisasi.
Kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi individu atau kelompok agar
secara sadar dan secara harmonis bekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Kata
“sadar” menunjukkan bahwa kepemimpinan didasarkan oleh kerelaan dan bukan
paksaan. Hal ini berbeda dengan kekuasaan yang diterima sebagai suatu keterpaksaan.
Pengakuan
terhadap pentingnya variabel kepemimpinan dalam organisasi telah menjadi dasar
analisis para ahli dari berbagai kalangan. Dari analisis itu terungkap
pentingnya strategi kepemimpinan yang dirumuskan dalam berbagai bentuk perilaku
kepemimpinan yang efektif. Teori kepemimpinan perilaku (Hersey & Blanchard,
1982) yang sudah lama dikenal misalnya, memandang kepemimpinan yang efektif
(yang mendorong kinerja bawahan) adalah kepemimpinan yang memperhatikan dua
aspek secara bersamaan: orientasi terhadap tugas dan orientasi terhadap
manusia. Orientasi terhadap tugas melahirkan kepemimpinan yang memiliki visi
yang jelas, tugas yang jelas dan sistem komunikasi yang permanen. Orientasi
terhadap manusia melahirkan kepemimpinan kesejawatan; kemauan pemimpin
mendengarkan suara hati bawahan, memanusiakan bawahan dan mendorong partisipasi
bawahan dalam berbagai aspek kehidupan organisasi. Banyak bukti menunjukkan
bahwa penerapan kepemimpinan partisipatif meningkatkan komitmen bawahan
terhadap tugas dan pada gilirannya meningkatkan kinerja mereka.
Beberapa
penulis lainnya juga mengemukakan strategi kepemimpinan. Farkas dan Backer
(1996) mengembangkan gagasan tentang Maximum Leadership yang meliputi lima
pendekatan: pendekatan strategik, pendekatan aset manusia, pendekatan keahlian,
pendekatan kontrol, dan pendekatan agen perubahan.
Stephen
R. Covey (1991) juga mengembangkan strategi kepemimpinan yang disebut sebagai
kepemimpin yang berprinsip (Principle Centered Leadership) yang salah satu
strateginya adalah orientasi kepada pelanggan. Strategi ini juga diadaptasi
oleh Blaine Lee (1997) dalam istilah Kekuasan yang Berperinsip
(Principle-Centered Power). Kedua pendekatan ini mementingkan kapabilitas dan
kebajikan dalam kepemimpinan.
Paul
Brich (1999) mengembangkan strategi Instant Leadership dengan 66 cara
kekepimpinan yang praktis. Di luar dari hal-hal yang betul-betul praktis,
terdapat strategi inti yang dikemukakannya yaitu bahwa pemimpin terbaik adalah
orang yang memungkinkan terpenuhinya tuntutan yang tadinya dianggap mustahil
dan kemudian menawarkan dukungan penuh yang tadinya dianggap tidak mungkin.
Intinya, kepemimpinan berkaitan dengan tantangan dan dukungan.
John
C. Maxwell (1995) mengembangkan prinsip dasar kepemimpinan yang antara lain
meliputi: penyusunan prioritas, integritas, menciptakan perubahan positif,
pemecahan masalah, sikap positif, pengembangan aset manusia, wawasan, dan
disiplin pribadi.
Selain
psikologi, yang ikut mempengaruhi perilaku organisasi adalah masalah stres
kerja. Istilah stres kerja digunakan untuk menunjukkan keadaan tertekan yang
di¬alarm individu yang disebabkan oleh kondisi atau situasi tertentu yang
terjadi di ling¬kungan kerjanya. Istilah itu membedakannya dengan jenis stres
hidup lainnya yang bersumber dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosial
(Robbins, 1990). Kontribusi itu terutama dalam menjelaskan konsep stres kerja
yang didasarkan pada tiga pendekatan dalam mengkaji stres, yaitu: pendekatan
fisiologik, pendekatan stimulus, dan pendekatan psikologik (Cox & Ferguson,
1991). Pendekatan fisiologik berpijak pada konsep stres yang dikemukakan oleh
Selye. Selye (1985) mengemukakan bahwa stress adalah respon umum tubuh terhadap
suatu tuntutan. Definisi itu, didasarkan pa¬da indikator obyektif seperti
perubahan jasmani dan kimiawi yang muncul sesudah adanya tuntutan atau tekanan
dari lingkungan.
Menurut
Selye, perubahan-perubahan itu terjadi dalam serangkaian reaksi fisiologik yang
disebut The General Adaptation Syndrome atau Sindrom Adaptasi Umum yang terdiri
atas tiga tahap, yaitu tahap reaksi alarm, tahap perlawanan, dan tahap
keletihan. Bila suatu situasi mengancam keamanan atau kesehatan individu, maka
akan segera terjadi reaksi alarm. Jika indi¬vidu dapat bertahan, reaksi awal
ini kemudian diikuti oleh tahap kedua, yaitu perla¬wanan terhadap situasi yang
mengancam itu. Jika stres berkepanjangan, maka tahap keletihan akan terjadi, di
mana kemampuan untuk mengatasi stres menurun. Tahap ini diikuti oleh munculnya
penyakit biologis.
Pendekatan
stimulus menekankan perlunya diperhatikan peristiwa eksternal yang menyebabkan
stres (Baron & Greenberg, 1990). Stimulus berupa peristiwa eks¬ternal yang
menyebabkan munculnya tuntutan terhadap individu untuk beradaptasi, mengatasi
atau menyesuaikan diri (Sowa, dkk., 1986). Menurut pendekatan ini, ba¬nyak
peristiwa eksternal yang potensial menyebabkan stres memiliki sifat-sifat
beri¬kut: (1) mempunyai pengaruh yang sangat kuat sehingga bisa menyebabkan
individu mengalami kelebihan beban fisik maupun mental, (2) potensial terhadap
timbulnya keadaan yang tidak serasi pada individu, dan (3) berada di luar
pengendalian individu (Baron & Greenberg, 1990).
Pendekatan
psikologik atau penilaian kognitif (cognitive appraisal) diilhami oleh pemikiran
Lazarus dan kawan-kawan yang memperkenalkan teori kognitif da¬lam mengkaji
fenomena stres. Aspek kunci dari pendekatan itu adalah "penilaian kognitif
individu.” Menurut Lazarus dan Folkman (1986), stres merupakan "a
rela¬tionship with the environment that the person appraises as significant for
his or her well-being and in which the demands tax or exceed available coping
resources" (h. 63).
Penilaian
kognitif meliputi dua dimensi: penilaian primer dan penilaian se¬kunder (Cox
& Ferguson, 1991). Penilaian primer berkenaan dengan penilaian indi¬vidu
untuk menentukan apakah suatu stimulus atau situasi membahayakan, meng¬ancam,
atau menantang, sedangkan penilaian sekunder berkenaan dengan penilaian
individu terhadap kemampuannya mengatasi stimulus tersebut. Dari perspektif itu
stres terjadi manakala terdapat ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian yang
sangat berarti antara persepsi individu terhadap suatu tuntutan yang
dihadapinya dan ke¬mampuannya mengatasi tuntutan tersebut. Dengan kata lain
stres terjadi apabila in¬dividu merasakan: (1) bahwa suatu situasi atau
tuntutan mengancam tujuan penting individu, dan (2) bahwa individu tidak mampu
mengatasi situasi potensial tersebut (Lazarus & Folkman, 1986).
Pendekatan
itu juga memandang bahwa suatu situasi yang terjadi dapat me¬nimbulkan reaksi
stres yang berbeda pada setiap individu (Cox & Ferguson, 1991). Perbe¬daan
reaksi stres ini disebabkan oleh pengaruh perbedaan individu dalam proses
pe¬nilaian kognitif yang terjadi dalam dua rangkaian penilaian. Pertama, dalam
penilaian primer, perbedaan individu berperan dalam hubungannya dengan persepsi
individu terhadap tuntutan dan tekan¬an pekerjaan. Kedua, dalam penilaian
sekunder, kemampuan individu dalam meng¬atasi tuntutan tersebut bervariasi.
Secara rinci, Fletcher (1991) mengemukakan bah¬wa terjadinya perbedaan reaksi
atau respon stres pada setiap individu disebabkan oleh: (1) perbedaan keadaan
individu, (2) perbedaan dalam melihat dunia, dan (3) perbedaan kecondongan
(bias) dan sistem fungsional individu.
Dengan
menggunakan pendekatan penilaian kognitif tersebut saya telah melakukan
penelitian untuk mengetahui fenomena stres kerja guru (Arismunandar, 1998,
2003). Kesimpulan-kesimpulan penelitian tersebut menunjukkan hal-hal sebagai
berikut.
a.
Sumber-sumber stres kerja yang seringkali dihadapi guru adalah: (1) potongan
gaji, (2) kenaikan pangkat/jabatan yang tertunda, (3) siswa yang berperilaku
buruk, (4) konflik dengan personil lain, (5) lingkungan sekolah yang terlalu
bising, dan (6) kurangnya motivasi, perhatian, dan respon siswa terhadap
pelajaran.
b.
Persentase guru di Sulawesi Selatan yang mengalami stres serius (tinggi dan
sangat tinggi) cukup besar, yaitu 30,27 persen, sedangkan guru yang mengalami
stres kerja sedang sebesar 48,11 persen dan yang mengalami stres kerja kurang
serius hanya 21,62 persen.
c.
Stres kerja berpengaruh terhadap kinerja guru. Pengaruh stres kerja tersebut
terjadi dalam mekanisme berikut: stres kerja yang berada pada level sedang
dapat meningkatkan kinerja individu (Davis & Newstrom, 1989). Stres kerja
yang serius dan kurang serius tidak meningkatkan kinerja individu.
d.
Individu yang lebih muda, wanita, memiliki perilaku tipe A, individu yang
memiliki dukungan sosial rendah, dan individu yang memiliki lokus kendali
eksternal mengalami stres lebih tinggi dibanding mereka yang berusia tua, pria,
individu tipe B, yang memiliki dukungan sosial tinggi, dan yang memiliki lokus
kendali internal.
D.
Kepemimpinan Kepala Sekolah
Sebagaimana
sekolah dipahami sebagai suatu organisasi, kepemimpinan dan manajemen menjadi
menarik untuk kaji. Sebagai suatu organisasi, sekolah memerlukan tidak hanya
seorang manajer untuk mengelola sumber daya sekolah, yang lebih banyak
berkonsentrasi pada permasalahan anggaran dan persoalan adminstratif lainnya, melainkan
juga memerlukan pemimpin yang mampu menciptakan sebuah visi dan mengilhami staf
dan semua komponen individu yang terkait dengan sekolah. Wacana ini
mengimplikasikan bahwa baik pemimpin maupun manajer diperlukan dalam
pengelolaan sekolah.
Berbeda
dengan organisasi lain, sekolah merupakan bentuk organisasi moral, yang berbeda
dengan bentuk organisasi lainnya, terutama yang berorientasi pada keuntungan
(laba). Sebagai suatu organisasi, menurut Rumtini Iksan
(http://www.depdiknas.go.id: 2005) kesuksesannya tidak hanya ditentukan oleh
kepala sekolah melainkan juga oleh tenaga kependidikan lainnya dan proses
sekolah itu sendiri. Hal tersebut membawa konsekuensi logis bahwa kepala
sekolah berkewajiban mengkoordinasikan ketenagaan di sekolah untuk menjamin terimplementasikannya
peraturan dan perundangan sekolah. Dalam perannya tersebut, kepala sekolah
dapat berfungsi sebagai motivator, direktur, dan evaluator.
Kepala
sekolah adalah pemimpin pada satu lembaga satuan pendidikan. Tanpa kehadiran
kepala sekolah proses pendidikan termasuk pembelajaran tidak akan berjalan
efektif. Kepala sekolah adalah pemimpin yang proses keberadaannya dapat dipilih
secara langsung, ditetapkan oleh yayasan, atau ditetapkan oleh pemerintah.
Menurut Awaludin Hamzah (http://www.pikiran-rakyat.com: 25 Oktober 2004) Ada
tiga syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi kepala sekolah yaitu :
1.
Aspek Akseptabilitas
Akseptabilitas
adalah aspek mengandalkan dukungan riil dari komunitas yang dipimpinnya.
Seorang kepala sekolah harus mendapat dukungan dari guru-guru dan karyawan
lembaga yang bersangkutan sebagai komunitas formal yang dipimpinnya. Dukungan
ini juga secara nonformal harus mendapat pula dari masyarakat pendidikan
termasuk komite sekolah sebagai wadah organisasi orang tua/wali siswa.
Seorang
kepala sekolah sah menjadi pemimpin apabila mendapat dukungan riil dari
masyarakat yang dipimpinnya, hal ini untuk memudahkan kinerja tugas serta
menghindarkan dari sikap apriori atau pembangkangan dari yang dipimpinnya.
Sesungguhnya jika seseorang yang memimpin tidak dikehendaki oleh yang dipimpin
akan menimbulkan ketidakserasian dalam pelaksanaan tugas.
Aspek
akseptabilitas ini dalam teori organisasi disebut legitimasi (pengakuan) yakni
kelayakan seorang pemimpin untuk diakui dan diterima keberadaannya oleh mereka
yang dipimpin. Untuk mendapatkan legitimasi, sebaiknya kepala sekolah dipilih
langsung oleh guru-guru.
Hanya
orang yang dipilih melalui proses pemilihan seperti ini biasanya seorang
pemimpin mendapat dukungan yang nyata. Tentunya melalui tahapan seleksi yang
ketat tidak asal memilih. Kepemimpinan seperti ini akan memiliki legitimasi
yang sangat kuat jika melalui proses pemilihan langsung yang dilaksanakan
secara adil, jujur, dan transparan.
2.
Aspek kapabilitas
Aspek
kapabilitas menyangkut kompetensi (kemampuan) untuk menjalankan kepemimpinan.
Untuk menjadi kepala sekolah tidak hanya cukup mendapat pengakuan dari
guru-guru sebagai pendukungnya tapi juga harus memiliki kemampuan memimpin.
Selain
itu, memiliki kemampuan dalam mengelola sumber daya yang ada dari orang-orang
yang dipimpinnya agar tidak menimbulkan konflik. Kapabilitas ini sangat
diperlukan bagi seorang kepala sekolah, melalui pengalaman yang cukup memadai
serta pengetahuan mengenai manajemen sekolah dan pendidikan lainnya. Apabila
kepala sekolah tidak memiliki kemampuan dalam mengelola dapat dipastikan
lembaga yang dipimpinnya tidak akan berjalan efektif dan ada kemungkinan
berantakan. Konflik biasanya muncul karena adanya berbagai kepentingan dan
gagasan yang kurang terakomodasi dengan sempurna. Apabila konflik ini dikelola
dengan baik serta mengakomodasi hal-hal yang secara realistis dapat dilaksanakan,
akan melahirkan sebuah kesepakatan dan pemahaman yang akan terasa elok apabila
dilaksanakan secara bersama dengan penuh tanggung jawab.
3.
Aspek integritas
Aspek
integritas adalah sebuah persyaratan yang sempurna apabila aspek akseptabilits
dan kapabilitas terpenuhi. Dengan persyaratan ini seorang kepala sekolah dapat
menghasilkan produk kepemimpinan yang sempurna dan diterima oleh khalayak.
Secara
sederhana, integritas artinya komitmen moral dan berpegang teguh terhadap
aturan main yang telah disepakati sesuai dengan peraturan dan norma yang
semestinya berlaku. Faktor ini akan menentukan wibawa dan tidaknya seorang
kepala sekolah.
Suatu
penghargaan akan diberikan terhadap seorang pemimpin apabila memegang teguh
janjinya serta komitmennya terhadap sesuatu yang telah disepakatinya. Jadi,
integritas adalah menyangkut konsistensi dalam memegang teguh aturan main atau
norma-norma yang berlaku di dunia pendidikan.
Selain
tiga persyaratan tersebut, kepala sekolah sebagai seorang manajer di lembaga
pendidikan juga harus memiliki tiga kecerdasan pokok, yaitu : kecerdasan
profesional, kecerdasan personal dan kecerdasan manajerial agar dapat bekerja
sama dan mengerjakan sesuatu dengan orang lain. Rosyada (2004:240-242)
mengklasifikasikan kemampuan manajerial yang harus dipertimbangkan sebagai
langkah awal mengerjakan berbagai tugas manajerial, yaitu :
a.
Kemampuan mencipta, yang meliputi : selalu mempunyai ide-ide bagus, selalu
memperoleh solusi-solusi untuk berbagai problem yang biasa dihadapi, mampu
mengantisipasi berbagai konsekuensi dari pelaksanaan berbagai keputusan dan
mampu mempergunakan kemampuan berfikir imajinatif (lateral thingking) untuk
menghubungkan sesuatu dengan yang lainnya yang tidak bisa muncul dari analisis
dan pemikiran-pemikiran empirik.
b.
Kemampuan membuat perencanaan, yang meliputi : mampu menghubungkan kenyataan
sekarang dan hari esok, mampu mengenali apa-apa yang penting saat itu dan
apa-apa yang benar-benar mendesak, mempu mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan
mendatang, dan mampu melakukan analisis.
c.
Kemampuan mengorganisasi, yang meliputi : mampu mendistribusikan tugas dan
tanggung jawab yang adil, mampu membuat putusan secara tepat, selalu bersikap
tenang dalam menghadapi kesulitan, mampu mengenali pekerjaan itu sudah selesai
dan sempurna dikerjakan.
d.
Kemampuan berkomunikasi, yang meliputi: mampu memahami orang lain, mampu dan
mau mendengarkan orang lain, mampu menjelaskan sesuatu pada orang lain, mampu
berkomunikasi melalui tulisan, mampu membuat orang lain berbicara, mampu mengucapkan
terima kasih pada orang lain , selalu mendorong orang lain untuk maju dan
selalu mengikuti dan memanfaatkan tekhnologi informasi.
e.
kemampuan memberi motivasi, yang meliputi : mampu memberi inspirasi pada orang
lain, menyampaikan tantangan yang realistis, membantu orang lain untuk mencapai
tujuan dan target, membantu orang lain untuk menilai kontribusi dan
pencapaiannya sendiri.
f.
Kemampuan melakukan evaluasi, yang meliputi : mampu membandingkan antara hasil
yang dicapai dengan tujuan, mampu melakukan evaluasi diri, mampu melakukan
evaluasi terhadap pekerjaan orang lain, dan mampu melakukan tindakan pembenaran
saat diperlukan.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Implikasi Perilaku Organisasi dalam Manajemen Pendidikan
Manajemen
pendidikan baik sebagai teori maupun sebagai praktik sangat berkaitan dengan
perilaku organisasi. Berdasarkan tingkat analisis yang dikemukakan sebelumnya
manajemen pendidikan memenuhi tingkatan-tingkatan di mana analisisnya meliputi
individu, kelompok, dan organisasi. Bahkan jika dianalisis lebih jauh, perilaku
organisasi bahkan lebih kompleks apabila diterapkan dalam dunia pendidikan.
Dari aspek individu, lingkungan pendidikan mencakup ragam manusia yang meliputi
siswa, guru, tenaga administrasi, kepala sekolah, pengawas, dan staf lainnya.
Dengan
keragaman individu juga menyebabkan terjadinya sejumlah variasi kelompok dalam
organisasi, termasuk keragaman dalam bentuk organisasinya. Karena itu, untuk
memastikan berbagai kebijakan pendidikan dapat terlaksana dengan baik maka
seyogianya para pengambil keputusan memperhatikan dimensi pribadi (motivasi,
stres, dan kepribadian) dan dimensi organisasi (ukuran kelompok, komposisi
kelompok, kepemimpinan, dll) di lingkungan pendidikan.
Masalah
perilaku organisasi di lingkungan pendidikan, terdapat tiga konsep yang saling
berkaitan, yaitu organisasi informal, iklim, dan budaya sekolah (Hoy dan
Miskel, 1987). Meskipun ketiga konsep tersebut memiliki perbedaan, namun pada
intinya adalah bahwa organisasi memerlukan semangat tim yang bekerja sama satu
sama lain untuk mencapai tujuan organisasi. Organisasi informal menetapkan
norma dan nilai yang dianut oleh para anggotanya. Organisasi informal juga
mengembangkan sistem kekerabatan yang menembus batas-batas struktur formal yang
membantu anggotanya dalam mengembangkan semangat tim. Iklim dan budaya sekolah
juga mementingkan perlunya didorong budaya kerja tim dalam meningkatkan
keefektifan organisasi.
Demikian
pula iklim fisik, sosial, dan psikologis yang kondusif akan menciptakan suasana
yang mendukung bagi terlaksananya pembelajaran yang sukses. Menurut Hoy dan
Miskel, iklim fisik sekolah berupa bangunan dan ruang yang tertata rapi dan
sejuk dapat mempengaruhi perilaku siswa dan guru serta staf lainnya di sekolah.
Iklim sosial berupa hubungan-hubungan manusia yang terjadi di lingkungan
pendidikan turut berpengaruh, terutama dalam hal menumbuhkan suasana
kekeluargaan yang cenderung menciptakan lingkungan yang “soft” bagi personilnya
dibandingkan dengan lingkungan yang penuh konflik dan permusuhan. Dengan
demikian, pengembangan atmosfir melalui iklim kerja dapat mengubah perilaku
warga di sekolah.
B.
Kinerja guru
Menurut
Timotius (http://www.geocities.com/guruvalah:2005) Kinerja merupakan terjemahan
dari bahasa Inggris, work performance atau job performance tetapi dalam bahasa
Inggrisnya sering disingkat menjadi performance saja. Kinerja dalam bahasa
Indonesia disebut juga prestasi kerja. Kinerja atau prestasi kerja
(performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari pengetahuan,
sikap, ketrampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Masalah kinerja
selalu mendapat perhatian dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan
produktivitas lembaga atau organisasi.
Faktor
utama yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan dan kemauan. Memang diakui
banyak orang mampu tetapi tidak mau sehingga tidak menghasilkan kinerja.
Demikian pula halnya banyak orang mau tetapi tidak mampu juga tetap tidak
menghasilkan kinerja. Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang
diperlihatkan atau kemampuan bekerja, dengan kata lainbahwa kinerja dapat
diartikan sebagai prestasi kerja. Henri simamora (1997:423) menyatakan bahwa
prestasi kerja (performance) diartikan sebagai suatu pencapaian persyaratan pekerjaan
tertentu yang alhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang
dihasilkan baik kuantitas maupun kualitasnya.
Sedangkan
Hasibuan (2001:94) mendefinisikan prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang
didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu. Prestasi
kerja merupakan gabungan dari tiga faktor penting yaitu, kemampuan dan minat
seorang pekerja, kemampuan dan minat seorang pekerja, kemampuan dan penerimaan
atas penjelasan delegasi tugas, serta peran dan tingkat motivasi seorang
pekerja. Semakin tinggi ketiga faktor diatas, semakin besarlah prestasi kerja
karyawan bersangkutan.
Dari
pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa apabila seorang pegawai telah
memiliki kemampuan dalam penguasaan bidang pekerjaannya, mempunyai minat untuk
melakukan pekerjaan tersebut, adanya kejelasan peran dan motivasi pekerjaan
yang baik, maka orang tersebut memiliki landasan yang kuat untuk berprestasi
lebih baik.
Ukuran
kinerja secara umum yang kemudian diterjemahkan ke dalam penilaian perilaku
secara mendasar meliputi : (1) kualitas kerja; (2) kuantitas kerja; (3)
pengetahuan tentang pekerjaan; (4) pendapat atau pernyataan yang disampaikan;
(5) keputusan yang diambil; (6) perencanaan kerja; (7) daerah organisasi kerja.
Jadi
kinerja adalah kuantitas dan kualitas yang diselesaikan oleh individu, maka
kinerja merupakan output pelaksanaan tugas. Kinerja mempunyai hubungan yang
erat dengan masalah produktivitas, karena merupakan indikator dalam menentukan
bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu
organisasi. Hasibuan (1999:126) menyatakan produktivitas adalah perbandingan
antara keluaran (output) dengan masukan (input). Adapun Faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja menurut Sedarmayanti
(http://www.geocities.com/guruvalah:2005) antara lain : sikap mental,
pendidikan, ketrampilan, manajemen kepemimpinan, tingkat penghasilan, gaji dan
kesehatan, jaminan sosial, iklim kerja, sarana prasarana, tekhnologi dan
kesempatan berprestasi.
Bertolak
dari para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
kinerja guru atau prestasi kerja (performance) adalah hasil yang dicapai oleh
guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan
atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu dengan output yang
dihasilkan tercermin baik kuantitas maupun kualitasnya.
C.
Penilaian Kinerja Guru
Tugas
manajer (kepala sekolah) terhadap guru salah satunya adalah melakukan penilaian
atas kinerjanya. Penilaian ini dilaksanakan untuk mengetahui kinerja yang telah
dicapai oleh guru. Apakah kinerja yang dicapai setiap guru baik, sedang atau
kurang. Penilaian ini penting bagi setiap guru dan berguna bagi sekolah dalam menetapkan
kegiatannya.
Dengan
penilain berarti guru mendapat perhatian dari atasannya sehinga dapat mendorong
mereka untuk bersemangat bekerja. Tentu saja penilaian ini harus dilakukan
secara objektif dan jujur serta ada tindak lanjutnya.Tindak lanjut penilaian
ini guru memungkinkan untuk memperoleh imbalan jasa dari sekolah seperti
memperoleh kenaikan jabatan seperti wakil sekolah, Pembimbing OSIS atau mungkin
modal untuk mendapatkan kenaikan pangkat dengan sistem kredit.
Penilaian
kinerja ini merupakan alat yang berguna tidak hanya untuk mengevaluasi kerja
dari para guru, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan guru.
Sejalan dengan itu Hasibuan (2001:86) berpendapat Penilaian prestasi adalah
kegiatan manajer untuk mengevaluasi perilaku prestasi kerja karyawan serta
menetapkan kebijaksanaan selanjutnya.
Dalam
penilaian kinerja tidak hanya semata-mata menilai hasil fisik, tetapi
pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan yang menyangkut berbagai bidang
seperti kemampuan, kerajinan, disiplin, hubungan kerja atau hal-hal khusus
sesuai bidang tugasnya semuanya layak untuk dinilai.
Unsur
prestasi karyawan yang dinilai oleh setiap organisasi tidaklah selalu sama,
tetapi pada dasarnya unsur-unsur yang dinilai itu mencangkup seperti hal-hal
ditersebut. Demikian juga untuk menilai kinerja guru, unsur-unsur yang telah
dipaparkan dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk melakukan penilaian namun
tentu saja berkaitan dengan profesinya sebagai guru dengan tugas utamanya
sebagai pengajar.
Dalam
melaksanakan tugasnya, guru tidak berada dalam lingkungan yang kosong. Ia
bagian dari sebuah mesin besar pendidikan nasional, dan karena itu dia terikat
pada rambu-rambu yang telah ditetapkan secara nasional mengenai apa yang mesti
dilakukannya. Hal seperti biasa dimanapun, namun dalam konteks profesionalisme
guru dimana mengajar dianggap sebagai pekerjaan profesional, maka guru dituntut
untuk profesional dalam melaksanakan tugasnya.
Sehubungan
dengan uraian tersebut maka kinerja guru yang diukur dalam penelitian ini merupakan
penilaian terhadap guru yang menyangkut tugasnya sebagai pengajar dan penilaian
kepala sekolah yang menyangkut tentang kepemimpinanya.
D.
Konsep Organisasi
1.
Definisi organisasi
Organisasi
adalah sekumpulan orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Yang
dilakukan oleh organisasi adalah mendapatkan sumber daya dan memanfaatkannya.
Organisasi merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk mencapai tujuan
tertentu. Organisasi didirikan mempunyai tujuan organisasi dimana tujuan
organisasi yang satu mungkin berbeda dengan organisasi lainnya. Pada umumnya
tujuan organisasi adalah:
a.
Menghasilkan laba
b.
tingkat keuntungan
c.
maksimisasi nilai pemegang saham
d.
produktivitas
e.
posisi pasar
f.
product leadership
g.
dan sebagainya
Pada
organisasi nirlaba, keuntungan bukan menjadi tujuan yang utama. Biasanya
organisasi nirlaba mempunyai tujuan menyediakan pendidikan, jasa, pelayanan,
dan sebagainya.
2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tujuan adalah
a.
budaya organisasi
b.
gaya manajemen
c.
organisasi informal
d.
persepsi dan komunikasi
e.
kerjasama dan konflik
E.
Teori Motivasi
1.
Maslow
a.
Kebutuhan fisiologis
b.
Kebutuhan keamanan
c.
Kebutuhan sosial
d.
Kebutuhan penghargaan
e.
Kebutuhan aktualisasi diri
2.
Dua Faktor Herzberg
a.
Hygiene faktor: berkaitan dengan konteks kerja dan arti lingkungan
b.
kerja bagi individu kondisi kerja, gaji, kebijakan organisasi, hubungan antar
personal, kualitas pengawasan
c.
Satisfier faktor: berhubungan dengan isi kerja dan definisi bagaimana seseorang
menikmati atau merasakan pekerjaannya prestasi, pengakuan, tanggung jawab dan
kesempatan berkembang.
3.
Teori Pengharapan Vroom. Teori ini terdiri dari unsur -unsur
a.
Expectancy: hubungan dimana seseorang mempercayai antara usaha dan kemampuan dengan
hasilnya diukur dalam sistem pengukuran prestasi organisasi. Hubungan Upaya
Kinerja;
b.
Instrumentality: hubungan antara kinerja yang diukur dengan hasil yang
diharapkan untuk individu. Hubungan Kinerja Ganjaran;
c.
Valence: nilai dimana seseorang menugaskan pada hasil yang disediakan untuk
individu dari organisasi sebagai hasil pengukuran prestasi normal. Hubungan
Ganjaran Tujuan;
Kita
semua mengalami masalah apakah pekerjaan kita itu sesuai dengan yang kita dambakan.
Atas dasar alasan ini langkah pertama menuju penciptaan seorang tenaga kerja
yang termotivasi seharusnya dengan cara menerima karyawan yang termotivasi dari
dirinya sendiri. Menurut Gerald Graham, Direktur Sekolah Bisnis Universitas
Wichita State, adalah dengan mengkaji riwayat dan pengalaman mereka. Sayangnya
untuk kebanyakan manajer, pekerja yang mereka miliki adalah pekerja yang
terpaksa. Dengan demikian, cara selanjutnya yang harus dilakukan adalah
menemukan cara untuk mempercepat dorongan di dalam diri mereka menuju
kesuksesan. Sebelum mencoba ini, para manajer harus mengetahui berbagai
perilaku yang memotivasi mereka.
Bila
tujuannya telah diketahui, para manajer dapat (1) memberikan kepada pekerja
keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang baik.
Ini termasuk tujuan secara keseluruhan dan misi bisnis, pekerja yang perlu
dikerjakan oleh Departemen khusus, dan aktivitas kerja tertentu yang
mengharuskan berkonsentrasi pada pekerjaan tersebut. Bob Nelson, Wakil Presiden
Pusat Penelitian Pengembangan Blanchard dan penulis "1001 Cara Memberikan
Imbalan Karyawan", mengatakan bahwa Komunikasi Yang Terbuka membantu
pekerja merasa bahwa mereka berada di dalam keputusan-keputusan penting
mengenai bisnis dan membantu mereka untuk memahami prakarsa yang melandasi
bisnis tersebut.
Ia
menambahkan, informasi itu seharusnya tidak hanya terdapat pada bagian sebelum
akhir proyek atau tugas tapi juga terdapat di bagian tengah dan akhir. Dengan
kata lain manajer harus (2) memberikan kesempatan umpan balik secara teratur.
Seperti Ken Blanchard penulis buku "Manajer Satu Menit", menekankan,
"Pengaruh umpan balik adalah sarapan pagi para juara".
Mengingat
karyawan adalah para ahli pada pekerjaannya, para manajer harus (3) meminta
masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang
mempengaruhi pekerjaan mereka. Suasana komunikasi terbuka dan berbagi
komunikasi dua arah lebih memotivasi, jika hal itu menjadi suatu bagian
pelengkap dalam menjalankan bisnis. Oleh karena itu perusahaan harus (4)
membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan, sehingga karyawan dapat
menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh
jawaban.
Sambungan
telepon langsung, kotak saran, forum-forum kelompok kecil, tanya jawab dengan
pimpinan dan "politik pintu terbuka" adalah beberapa cara yang dapat
mendorong dan membesarkan hati karyawan untuk berbicara terus terang. Salah
satu tujuan terpenting komunikasi terbuka bagi para pimpinan adalah untuk (5)
belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka. Motivator
dari dalam diri setiap orang berbeda, serta imbalan atas suatu pekerjaan yang
dikerjakan dengan baik harus dibakukan.
Saul
Gellerman penulis "Motivating Superior Performance" menambahkan,
"Tunjukkan rasa hormatmu terhadap individu dengan menanggapi tanda yang
mereka tunjukkan tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan dan jenis
pekerjaan yang ingin mereka kerjakan." Para manajer harus (6) mempelajari
apa saja kegiatan-kegiatan lain yang pekerja lakukan bila mereka mempunyai
waktu luang, dan kemudian menciptakan kesempatan bagi mereka untuk melakukan
kegiatan itu secara lebih teratur.
Motivator
terbaik adalah bila para manajer (7) memberi selamat secara pribadi kepada
karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik. Pemberian selamat ini harus
dilakukan khusus dan tepat waktu.. Suatu cara untuk memastikan penghargaan
adalah agar para manajer (8) terus menerus memelihara hubungan dengan orang
yang mereka bawahi. Bila penghargaan pada karywa tidak dapat dijalankan, para
manajer harus (9) menulis Memo secara pribadi kepada mereka tentang hasil
kinerja mereka. Karena tulisan tersebut merupakan penghargaan yang nyata, serta
dampak atas "perasaan aman" itu berlangsung lama.
Bila
manajer (10) menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum.
Mereka akan menyatakan bahwa karyawa yang berprestasi mengagumkan telah
mendapat perhatian positif dari semua orang. Mengingat kelompok adalah suatu
kenyataan yang ada di dalam perusahaan, maka upaya-upaya penghargaan juga harus
termasuk di dalamnya dan harus (11) meliputi pertemuan-pertemuan pembentukan
moril seperti "merayakan kesuksesan yang dicapai kelompok" dan tidak
perlu dibesaar-besarkan cukup dengan memberitahukan kelompok pada waktu yang
tepat bahwa mereka telah mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik.
Tidak
ada yang melemahkan motivasi karyawan lebih cepat selain pekerjaan rutin dan
pekerjaan yang tidak menantang. Bila perusahaan ingin agar karyawan melakukan
pekerjaan yang baik, maka harus (12) memberi karyawan satu pekerjaan yang baik
untuk dikerjakan dan para manajer harus memperlihatkan kepada karyawan
bagaimana mereka dapat berkembang dan memberi kesempatan untuk mempelajari
kemampuan-kemampuan baru.
Langkah
selanjutnya (13) memastikan apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang
terbaik. Sebagai contoh perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi
kesenian cenderung menjadi tempat yang menyenangkan. Mempunyai perlatan canggih
membuat karyawan bangga. Kebijakan perusahaan dan praktek manajemen mempunyai
suatu kemampuan yang luar biasa untuk mendorong atau merusak motivasi
seseorang. Perusahaan yang kurang memiliki keinginan inspiratif dapat
memperbaikinya dengan menggunakan kombinasi yang mana saja dari ke-7 cara
berikut:
(14)
Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan karena karyawan akan lebih
terdorong untuk bekerja bagi perusahaan yang memperhatikan keperluan
pribadinya. (15) Gagasan menggunakan kinerja sebagai sadar untuk promosi masih
dianggap revolusioner. Membahas tentang kinerja, suatu perusahaan harus (16)
menetapkan suatu kebijakan promosi dari dalam secara komprehensif.
Kebijakan-kebijakan tersebut harus mencakup keamanan pekerjaan dengan (17)
menegaskan komitmen perusahaan terhadap perkaryaan jangka panjang. Beberapa
pernyataan menunjukkan bahwa karyawan menuntut komitmen perusahaan yang tinggi
atas keamanan kerja, namun perusahaan akan melakukan hal tertentu yang
memperlancar pengkaryaan jangka panjang.
Perusahaan
yang (18) membantu berkembangnya rasa "bermasyarakat" sehingga
karyawan akan merasa betah di dalamnya, telah hilang. Politik kerja dan
semangat juang yang menurun akan merampas motivasi bahkan dari orang yang
berorientasi pada prestasi sekalipun. (19) Gajilah karyawan secara bersaing
berdasarkan apa yang mereka kerjakan. Jika karyawan merasa diberi kompensasi
(gaji) yang tepat, mereka tidak akan akan begitu tertuju pada lembarslip gaji
mereka dan perusahaan dapat memperoleh prestasi karyawan lebih baik lagi dari
imbalan yang tidak berhubungan dengan keuangan (nonfiancial).
Dengan
struktur gaji yang kompetitif, sebuah perusahaan dapat memotivasi orang untuk
perolehan yang lebih besar dengan (20) menawarkan "pembagian
keuntungan" (profit sharing) kepada karyawan. Kegiatan yang berdampak kuat
pada jajaran karyawan paling bawah harus benar-benardikenali, karena karyawan
harus mengtahui apa tujuan dari pekerjaannya. Selanjutkan agar uang mampu
memotivasi karyawan, jumlahnya harus berarti bagi mereka.
F.
Bentuk-bentuk Organisasi
Menurut
para para pakar seperti Stephen P. Robbins 2008, bentuk-bentuk organisasi
terdiri dari:
1.
Organisasi fungsional
2.
Organisasi divisional / unit bisnis
3.
Organisasi matrik
Adapun
fungsi kontroler organisasi
1.
mendesain dan menjalankan informasi dan mengawasi sistem
2.
menyiapkan laporan keuangan
3.
menyiapkan dan menganalisis pre stasi dan membantu pimpinan
4.
mengawasi prosedur internal dan ekternal
5.
memahami laporan, menganalisis anggaran
Secara
umum fungsi kontroler dapat dilihat pada bagan Proses pengendalian formal
berikut:
BAB
IV
KESIMPULAN
Tujuan
kajian perilaku organisasi pada dasarnya ada tiga, yaitu menjelaskan,
meramalkan, dan mengendalikan perilaku manusia. Robbins (2002). Menjelaskan,
kajian perilaku organisasi berupaya mengetahui faktor-faktor penyebab perilaku
seseorang atau kelompok. Penjelasan terhadap suatu fenomena dalam manajemen
merupakan hal penting karena membantu para manajer atau pemimpin tim dalam
melakukan sasaran lain yaitu mengendalikan situasi penyebab perilaku individu
atau kelompok kerja tersebut.
Sasaran
kedua, yaitu meramalkan berarti perilaku organisasi membantu memprediksi
kejadian organisasi di masa mendatang. Pengetahuan terhadap faktor-faktor
penyebab munculnya perilaku individu atau kelompok membantu manajer meramalkan
akibat-akibat dari suatu program atau kebijakan organisasi. Hal ini membantu
melakukan pengendalian preventif terhadap perilaku individu dan kelompok dalam
organisasi.
Sasaran
ketiga yaitu mengendalikan mengandung arti bahwa perilaku organisasi menawarkan
berbagai strategi dalam mengarahkan perilaku individu atau kelompok. Berbagai
strategi kepemimpinan, motivasi, dan pengembangan tim kerja yang efektif
merupakan contoh-contoh dalam mengarahkan perilaku individu dan kelompok.
Berhasil
atau tidaknya organisasi mencapai visi dan misinya juga dipengaruhi oleh
perilaku kepemimpinan dalam organisasi seperti: “membuat keputusan, menetapkan
sasaran, memilih dan mengembangkan personalia, mengadakan komunikasi,
memberikan motivasi, dan mengawasi pelaksanaan manajemen”.